Uber Ingin Fokus Transportasi Motor dan Sepeda Listrik

PERUSAHAAN jaringan transportasi Uber berniat fokus pada bisnis transportasi dengan motor dan sepeda listrik, sekalipun belum membawa keuntungan.

Kedua moda transportasi individual itu lebih cocok untuk perjalanan pendek di dalam kota.

Bos Uber Dara Khosrowshahi memperkirakan pengguna motor dan sepeda listrik di masa depan akan lebih sering melakukan perjalanan singkat.

Selama jam-jam sibuk, tidak efisien mengantar satu orang dengan (transportasi berbobot) 1 ton untuk (jarak) 10 blok.

“Secara finansial, dalam jangka pendek ini mungkin bukan keuntungan bagi kami, namun secara strategis jangka panjang kami pikir itulah yang tepat dan kami ingin menuju ke sana,” ujar Direktur Eksekutif Uber, Dara Khosrowshahi ,” seperti dikutip dari surat kabar Financial Times.

Uber telah melakukan investasi di sejumlah perusahaan sepeda pada tahun 2017. Jaringan transportasi sepeda listrik Jump miliknya sekarang tersedia di delapan kota AS, termasuk New York dan Washington, dan siap diluncurkan di Berlin, Jerman.

Perusahaan asal San Fransisco ini juga bekerja sama dengan Lime, sebuah perusahaan motor listrik (skuter elektrik), dan menjajaki penawaran di bidang angkutan umum dan pengiriman barang.

Lime Electric adalah startup yang berbasis di California dan baru saja menerima suntikan dana sebesar US$335 juta (sekira Rp 4,7 triliun) yang dipimpin oleh Google Ventures dengan keterlibatan Uber.

Uber akan menggabungkan layanan penyewaan skuter milik Lime ke dalam aplikasi mereka. Kini Lime berada di lebih dari 70 kota di Amerika dan Eropa dengan 60 juta perjalanan menggunakan skuter listrik, sepeda listrik, dan sepeda pedal.

Dara Khosrowshahi mengakui, Uber masih menghasilkan lebih sedikit uang dari sepeda listrik dibandingkan dengan moda transportasi mobil, namun dalam jangka panjang, lebih banyak pelanggan akan menggunakan aplikasi Uber lebih sering untuk perjalanan yang lebih pendek.

Uber mengklaim bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, sebagian besar penduduk perkotaan akan beralih ke moda transportasi yang bebas emisi dan menjadi alat perjalanan sehari-hari.

Bahkan saat ini, ada peningkatan permintaan untuk skuter listrik, moped dan sepeda motor di kota-kota besar di seluruh dunia.

Selain sepeda listrik, perusahaan juga memberikan layanan kendaraan yang biasa kita sebut sebagai scooty atau skuter imut seperti yang dipakai mainan anak.

Selain itu, kendaraan roda dua ini akan dikendarai oleh satu orang sama seperti dalam layanan sewa.

Meski terkesan visioner, diakui, jaringan pengemudi Uber mungkin kurang setuju dengan rencana ini, tetapi pengemudi Uber dalam jangka panjang akan mendapatkan keuntungan dari perjalanan yang lebih panjang.

Uber saat ini berada di bawah tekanan untuk meningkatkan keuangan dan keuntungannya menjelang rencana masuk bursa. Tahun lalu Uber membukukan kerugian sekitar 4.5 miliar dolar AS.

Pendapatan dari bisnis taksi online meningkat, namun biaya ekspansi ke area baru, seperti jasa transportasi sepeda dan pengiriman makanan, meningkat.

Tekanan regulasi mengancam pertumbuhan Uber di beberapa kawasan. Bulan September 2018, kota New York mengatakan akan meninjau lagi lisensi taksi untuk menghadapi kemacetan, sementara walikota London menerangkan dia mempertimbangkan langkah serupa. (*)

Tinggalkan Balasan