Jelajah 7 Negara Eropa dengan Budget Rp 20 Juta

JELAJAH 7 negara Eropa dengan budget Rp 20 juta sudah pasti dianggap sangat tidak mungkin. Your trip is crazy bro? Yess! Emang harus diakui ini benar-benar traveling paling gila selama perjalanan travelling saya. Banyak orang ngomong, mepet banget tuh (waktunya)? Nyiksa diri euy.

Kurang lama bro? Nggak jetlag tuh gitu landing langsung trip? Itu traveling atau kejar setoran? Hmmmm! I’m just responding to all the questions with smiles and say “iya nich”. Bodo amat orang ngomong ape. Wong yang jalanin kan saya. Gak ruginya juga sama Anda-anda yang komplain hehhehe.

Buktinya, saya enjoy dan merasa puas bisa trip santai, tanpa kejar setoran, take foto lalu ngabur. Beruntung banget, punya satu teman travelling yang kuat banting. Nggak banyak komplain dan nggak ribet. Karena untuk trip Eropa ini saya paling selektif banget pilih partner.

Kan nggak lucu, trip impian yang sudah saya planning sejak lama harus hancur pas dapet teman traveling yang nggak sepaham. Jadilah, saya trip berdua bareng dia dan hasilnya, tripnya seru hingga akhir. No drama dan semuanya happy. Sampe di akhir travelling saya tanya kesan kesan traveling bareng.

Jelajah 7 negara Eropa dengan budget Rp 20 juta, gimana tripnya? Ada yang salah nggak? Dia jawab, dia puas banget dan yang terpenting, dia bisa save money banyak. Irit tanpa harus kesiksa. I really believe that planning is good and I have thought about it from the beginning before the trip. Satu hari satu negara bukan hal yang mustahil.

Capek? Jujur pasti iya. But, this is traveling, ujung–ujungnya pasti akan capek juga. Kan jalan berkilometer. You can enjoy your trip, asal jangan dibawa males. Sayang kan, jauh-jauh ke Eropa dan keluarin banyak duit, cuma dipake buat nyantai di Hotel. Smart traveler, itu yang aku tanam sejak awal perjalanan travelling ini.

Saya tipe traveler yang sangat bangga bisa keluarin duit seminim mungkin selama traveling. Entah itu beli tiket promoan, nginap di hostel, ngakalin makan di restoran junk food atau beli fast food di supermarket. Hasilnya? Setiap traveling ke suatu negara selalu bisa ngepress budget dan pastinya murah tapi tapi enggak murahan.

Terus ada yang nanya, emang trip press budget bisa diterapin di Eropa yang punya label negara mahal? Wong kencing saja bayar Rp 20.000. Impossible woy woy woy! Sumpah, ketemu ini orang, saya tarik itu congor. Saya cuma bisa jawab “Stay tune ya di postingan saya.

Baca sampe abis dan terakhir kasih komentar. Saya cuma ngabisin duit Rp 20 juta all in untuk keliling Eropa 7 Negara dari barat, timur ke selatan. Mulai dari Paris, Amsterdam, Koln, Praha, Hallstaat, Salzburg, Venice, Zurich dan berakhir di Paris lagi.

Untuk trip high class ala Richard Muljadi? Hamba nggak mampu dan bukan tipe saya banget. Asiknya jalan mandiri itu, kita bisa jalan sampai ke lorong–lorong, jalan di suatu kota dan nyasarin diri aja untuk mendapatkan pengalaman luar biasa dibanding ngikut tour.

Oh iya, di balik Indahnya Poto Menara Eiffel, cantiknya kota Praha, Judesnya orang Jerman dan damainya kota Amsterdam, ternyata ada kisah sedih dan perjuangan di balik itu. As ussual, pasti ada drama sebelum traveling dan puncak, hampir batal terbang ke Eropa.

Paspor yang ada Visa Schengen hilang pas kecopetan di Istanbul, padahal trip Eropa tinggal kurang dari sebulan lagi. But God is Good, finally visa approve untuk kedua kalinya dan mimpi untuk keliling Eropa, akhirnya terwujud.

Jelajah 7 Negara Eropa dengan Budget Rp 20 Juta

Day 1 : Paris, Prancis
Setelah drama delay maskapai Saudi sejam lebih flight dari Jeddah ke Paris, akhirnya landing di Bandara CDG pukul 11.00. Prepare ganti SIM card dan bersih-bersih badan, langsung naik kereta RER B ke Chatelet Station dan lanjut naik metro ke Garde de Lyon Station.

Beli tiket Mobilis 1 Day dan simpan koper di Station Gare de Lyon. Keliling Paris bareng sama teman yang kebetulan lagi di Paris. Janji bertemu dan explore kota Paris barengan. Awal yang indah menyambut summer di Kota Paris, dimulai dari lunch bareng di taman kota Jardin Tuileries, mencoba menjadi warga lokal makan Roti Bougette dan minum wine.

Setelah makan siang, First time visit is Musee de Louvre, jalan menyusuri Champs Elysees, Place de la Concorde dan berakhir di ujung Arc De Triomphe. Spot kedua, menikmati kemegahan Menara Eiffel dari Birhakeim dan Trocadero Station, dua lokasi ini sangat recommend untuk dapetin foto terbaik view Eiffel Tower.

Sore hari, spot terakhir menuju ke Montmartre (Basilica diatas daratan Paris). Dari tempat ini, kalian bisa liat Kota Paris dari ketinggian. Kalau capek jalan naik anak tangga, bisa pakai Kereta naiknya dan ini uda dicover juga kok sama Mobilis. So, Mobilis emang paling recommend buat transportasi di Kota Paris.

Sayang banget Notre Dame Cathedral harus diskip karena waktu lagi renovasi pascakebakaran. Padahal, ini salah satu wish list yang mau dikunjungi sejak dulu. Saya percaya, ini jadi alasan buat balik lagi ke Paris. Yeyyyy! Malam hari jam 9 masih terang banget.

Kenapa saya suka banget travelling ini? Salah satunya karena pas musim summer dan terangnya lebih lama. Jadi, bisa explore (jelajah) kota di Eropa lebih lama. Sedih banget harus ninggalin Paris. Kota dengan arsitektur yang cantik dan tata kotanya yang bener-bener cakep. Saya dan teman akhirnya pisah, dan dia nganterin sampe ke Halte Bus Bercy, untuk bus malam dari Paris ke Amsterdam by Oui Bus.

Day 2 : Amsterdam, Belanda
Tiba di Amsterdam Sloterdijk pagi hari. Kami dijemput Bang Roy, WNI yang uda stay di Belanda lebih dari 18 tahun. Kami nginep 1 malam di Flat Bang Roy dengan bayar 30 EUR, sejenis apartemen yang disewain sama dia. Kami nggak booking hotel, karena rata–rata full dan ada juga available, tapi harganya jutaan untuk kelas dormitory mengingat pas peak season.

Jelajah 7 Negara Eropa dengan Budget Rp 20 Juta

Kaget pas di mobil menuju ke flatnya, dia teriak “Selamat datang di Negara paling bebas di dunia”. Kenapa Amsterdam itu jadi negara yang paling banyak dikunjungi, terutama negara–negara Eropa lain, karena ganja legal di sini, LGBT bebas dan wajar, bahkan kami dikira pasangan sejenis di Belanda, hahahaha.

Saking emang uda hal wajar pasangan sejenis di situ. Prostitusi bebas, nah itu makanya dia bilang Welcome to a Free Country hahahha. Beruntung banget kebetulan pas hari Sabtu dan Bang Roy libur kerja, dia nawarin buat nganter keliling Amsterdam dengan mobil kerjanya.

Setelah deal harga, kami cuma nambah 10 EUR saja untuk jasa tour guide sehari. Hehhehe, emang beruntung banget ya, lumayan menghemat jika dibanding jalan sendiri. Harus beli tiket regional pass seharga 18 EUR. Trip Amsterdam dimulai dari Desa Kincir Angin Zaanse Schans.

Di sini kami mencicipi keju beraneka jenis dan ternyata sangat beda dengan keju yang selama ini saya rasain. Lalu lanjut ke Desa nelayan Vollendam sambil makan seafood di Cafe, dengan view kapal kapal pribadi. Dapet info, ternyata orang–orang dari Negara Eropa sering berpesiar pake kapal pribadi dan berlabuh di Vollendam.

Kelar dari Zaandam dan Vollendam, kami lanjut ke Centrum Amsterdam, Dam Square, kampung nelayan yang cantik di Jordaan, dan malam harinya kami ke Museumplein, jaraknya sedikit jauh dari Centrum. Di Amsterdam, aku beli oleh-oleh Waffle Henri Willig yang paling terkenal enak di Belanda, dan sempat belanja di Primark, dekat dengan Amsterdam Central.

Day 3 : Koln, Jerman
Pagi hari, kami diantar ke Central Station untuk perjalanan selanjutnya ke Koln, Jerman. Perjalanan dengan Train DB selama 2 jam 45 menit dan tiba di Koln, pukul 11.00. Nggak banyak spot yang dikunjungi karena emang niatnya trip santai sebelum menunggu bus malam ke Praha.

Kesan pertama, begitu tiba di Jerman, orangnya jutek–jutek. Gaya hidupnya selalu serbacepat. Pas di jalan, nggak sengaja melihat ada cowok yang nyenggol cewek pas jalan rame, eh si cewe langsung melototin itu cowo, hahaha. Dalam hati, ya Allah ini cewe cakep-cakep tapi jutek.

Explore Koln dimulai dari ngopi di Starbuck Koln Hbf, lanjut ke Koln Cathedral, Hohenzolern Bridge, Cologne Old City dan menikmati kota Koln di ketinggian dari Cologne Triangle, dengan view Rhein River. Semua spot wisata ini tak terlalu jauh. Cukup jalan kaki dan nyasarin diri biar bisa liat kehidupan orang Jerman di Koln.

Pukul 16.00, akhirnya trip explore Koln kelar, sebelum ke halte Fernbus Bonn Flughafen Postbus, yang letaknya di Bandara Bonn Cologne untuk trip selanjutnya by Eurolines Bus ke Praha, kami mampir dulu ke Cologne 4711 store parfume. Ternyata store rata–rata suda tutup, dan keinget pernah baca, toko di Koln setiap hari Minggu tutup lebih awal pukul 17.00.

Day 4 : Praha, Republik Ceko
Tiba di Praha, UAN Florenc pukul 06.00 setelah perjalanan bus selama 10 jam. Kami langsung ke hostel untuk drop Koper dan bersih– bersih badan, karena check-in dimulai pukul 14.00. Lokasi hostel dekat sekali dengan Halte Bus UAN Florenc, 100 meter jalan kaki. Kelar drop koper, kami langsung ke spot utama dan sangat antusias untuk explore kota cantik ini.

Kesan pertama liat kota Praha, gila ini kota cakep banget. Setiap sudut cakep dan gak berhenti untuk ambil video dan poto. Dari 3 negara yang sudah kami kunjungin, Praha ada di top pertama, karena serius, negara ini cantik banget di setiap sudut. Dimulai dari kejar sunrise di Charles Bridge, lalu jalan menyebrang jembatan ke Prague Castle.

Di Prague Castle, ada Starbuck yang bisa dijadi spot foto dengan view kota Praha dari ketinggian. Spot ini harus menjadi wist list ya, karena emang cakep banget hasil fotonya. Masih satu lokasi Prague Castle, ada Katedral Saint Vitus dan Istana Prague. timmingnya pas pergantian penjaga istana.

Dari explore Prague Castle, kami balik ke old town Praha, mulai dari Astronomical Clock, Tyn Church, Powder Tower, Dancing House dan berakhir di alun–alun utama Kota Praha, Wenceslas Square. Praha itu kotanya kecil dan bisa di explore dengan jalan kaki. Puas explore Praha, pukul 17.00, kami balik ke hostel untuk istirahat nunggu bus malam dari Praha ke Salzburg, pukul 00.00 by Flixbus.

Day 5 : Hallstaat, Austria
Pengalaman naik bus dan kereta di Eropa, semuanya serbaontime. Jadi, usahakan datang 30 menit sebelum berangkat dan pastiin sudah tahu lokasinya. Saya biasa aware dan prepare sejak sebelum berangkat. Kalau telat bus 1 jurusan saja, itinerary trip bisa berantakan.

Nah, karena saya well prepare sejak awal, dan search by maps locationnya, semua trip berjalan mulus dan bus selalu ontime. Perjalanan Flixbus dari Praha ke Salzburg transit di Munich. Dari Munich ke Salzburg lanjut by Flixbus dan tiba pukul 10.00. Di Munich, setiap jalan dipenuhi mobil BMW.

Tiba di Salzburg Hbf, langsung ke hostel untuk drop koper dan bersih–bersih badan. Jarak dari Salzburg Hbf ke Hostel Yoho Salzburg cuma 700 meter jalan kaki. Tenang, jangan takut jalan kaki, karena hampir setiap hari jalan di Eropa pas summer, nggak akan keringatan.

Gak tau kenapa. Padahal kalau di Jakarta ketek sudah meleleh. Ditambah lagi, dari Stasiun Salzburg, bisa melihat indahnya pegunugan Alpen yang bersembunyi di balik rumah–rumah di Austria.  Kota Salzburg berada di utara Pegunungan Alpen. Bisa bayangin menikmati kota di Austria yang damai dan tenang dengan suasana pegunungan.

Kelar drop Koper. Start pukul 11.00, kami langsung naik Bus No 150 dari Salzburg Hbf ke Hallsaat. Untuk menuju ke Hallstaat dari Salzburg gampang banget. Semuanya sudah terkoneksi mulai dari Bus Salzburg ke Bad Ischl, lanjut kereta dari Bad Ischl ke Hallstaat Hbf, dan lanjut naik kapal feri dari Hallstaat Hbf ke Desa Hallstaat.

Perjalanan memakan waktu 2 jam, dari Salzburg ke Hallstaat, tapi sepanjang perjalanan bakal disuguhi indahnya pemandangan Pegunungan Austria. Nah, entah sepaham atau enggak, memang saya belum pernah ya ke Interlaken, Lauterbrunnen dan Grindelwald di Swiss, tapi sering di Youtube, feelnya sudah bisa aku dapetin pas perjalanan dari Salzburg ke Hallstaat.

Padang rumput yang hijau, rumah khas Eropa yang berwarna-warni, air sungai yang biru dan dikemas dalam background pegunungan bersalju. Walau nggak jadi Explore Interlaken di Swiss karena Swiss Saver Passnya yang mahal gila, setidaknya, sudah bisa menikmati indahnya nuansa pegunungan Eropa yang cakep like a heaven.

Oh ya, kalau mau, kalian bisa kok berhenti dan rasakan hawa sejuk dan foto–foto cantik dengan view pegunungannya karena bus berhenti di setiap halte. Awalnya sih kami rencanakan pas pulang dari Hallstaat, turun sebentar untuk take photo. Tapi, sudah keburu capek dan lupa.

Tiba di Hallstaat pukul 14.00, explore Hallstaat sampai pukul 17.00 dan balik ke Salzburg. Hallstaat itu kecil dan spot wisatanya cuma beberapa. Karena pengen foto di ikon yang sering ada di gambar–gambar kalender, akhirnya wish list has done. Tapi beneran, Hallstaat itu cakepnya kebangetan.

Emang lagi beruntung, di Hallstaat ada seremoni pemakaman warga sana. Awalnya kami heran, kok banyak orang lokal mengenakan pakaian khas. Apa mungkin ada acara perkawinan atau Parade Budaya, karena warganya berbaris di jalanan hingga ke Protestan Church. Pas kami tungguin dan lihat sepanjang jalan, wajahnya rata rata datar dan ada yang nangis.

Ternyata, itu seremoni pemakaman. Peti jenazah dipanggul di jalanan menuju ke gereja. Saya mencoba mengabadikan dengan video dan nggak diperbolehkan. Orang lokal menegur dengan tegas sambil ngomong tolong hargai acara sakral ini. Tapi overall, puas sih liat tradisi mereka dan pengalaman baru juga.

Satu lagi, warga lokal di Hallstaat kurang menyukai kehadiran turis di desa mereka, karena setiap rumah selalu menempelkan semacam warning label yang intinya bilang : Ini bukan museum atau bangunan publik, tolong hargai privasi pemilik rumah, jangan berisik.

Day 6 : Salzburg, Austria
Pagi Hari di Kota Salzburg, menikmati Pegunugan Alpen yang terlihat jelas di depan hostel. Hari ini, kami cuma explore Salzburg Half day, karena harus lanjut naik kereta pukul 14.00 untuk trip lanjutan ke Venice Italy. Salzburg menurut saya nggak secantik kota lain yang sudah kami kunjungin. Dari segi arsitektur dan tata kota masih kalah dibanding Praha, Paris dan Amsterdam.

Tapi, bagi pecinta Mozzart, memang kota ini sangat recommend. Ini kota damai banget, di setiap lokasi pasti ada event musical, cocok untuk menenangkan diri dari keramaian kota, karena kotanya kecil yang langsung menghadap pegunungan Alpen.

Kami explore kota Salzburg dengan jalan kaki, dimulai dari Mirabellplatz (Mirabell Garden), lalu berjalan ke Mozart Wohnhaus rumah kecil nya si Mozart. Menyeberang Makartsteg Bridge, dengan view Pegunungan Alpen, Mozartplatz, Salzburg Cathedral, Residenz Fountain, Mozart House dan berakhir di Hohensalzburg Fortress.

Dari Hohensalzburg Fortress, kami bisa liat kota Salzburg dari ketinggian. Tapi masuk ke Hohensalzburg Fortress berbayar ya. Jadi, kami cuma menikmati Kota Salzburg, dari luar benteng. Sayang duit euy, 15 EUR. Explore Salzburg kelar dan langsung ke Salzburg Hbf untuk menunggu train OBB, dari Salzburg ke Venezia Mestre Italia.

Jelajah 7 Negara Eropa dengan Budget Rp 20 Juta

Perjalanan by train ditempuh selama 5 jam 40 menit dan tiba di Venice Italy, pukul 20.00. Capek banget trip seharian, akhirnya langsung check in hostel dan istirahat. Oh ya, ada 2 stasiun kereta utama di Venice, yaitu Venezia Mestre dan Venezia St Lucia, dekat spot wisata Venice.

And you knowlah, Harga Hotel di Venezia St Lucia jauh lebih mahal dibanding Venezia Mestre. Makanya, saya lebih milih menginap di Venezia Mestre. Lagian akses dari Venezia Mestre ke Venezia St Lucia gampang. Tiketnya cuma 1,25 EUR.

Day 7 : Venice, Italia
Start dari Venezia Mestre ke Venezia St Lucia. Sampe stasiun, beli tiket di mesin pembelian tiket. Harganya 1.25 EUR one way, perjalanan 10 menit. Gitu keluar station, takjub liat Kota Air ini. Saya jatuh cinta lagi untuk kedua kalinya, setelah Kota Praha. Gilaaaaa, cakep banget ini kota.

Awalnya dibuat pesimistis oleh teman-teman. Katanya, Venice nggak seindah di kalender, air Venice aslinya jorok. But I have a different way to judge this city. Okey, rumah–rumahnya memang tua dan kumuh, airnya biru tapi sedikit jorok. But nothing’s perfect bro. Actually it is make Venice unique. And Im falling in love for the second time hehehhehe.

As usual, untuk beli Pass Vaporetto (Bus Air) dirasa mahal, sekitar 18 EUR. Kami putusin mengeksplore Venice dengan berjalan kaki. Mencoba mengeksplore sudut dalam kota Venice, lorong kecil. Seru banget, dan ini nggak bakal ditemuin kalau pake tour. Camkan itu!!! Pake tanda seru hahahhaha.

Mulai dari Station St Lucia, sudah dapet view foto bagus, lanjut ke Rialto Bridge, Basilica St Marco, Piazza San Marco, Doge Palace, foto dengan background Santa Maria della Salute dan San Giorgio Magglore. Trip Venice berakhir pukul 18.00. Sambil menunggu Flixbus pukul 22.00 di Venezia Tronchetto, kami makan KFC dan duduk santai sambil menikmati hawa indah Venice.

Day 8 : Zurich, Swiss
Arrived Zurich Hbf! Ternyata, salah kostum. Kota–kota sebelumnya sudah nggak dingin, eh di Swiss doang yang cuacanya dingin. Yah, walaupun dingin puncak, tapi kerasa banget nusuk ke tulang. Tapi ya sudahlah enjoy aja. Orang–orang Swiss sangat ramah dan murah senyum juga helpfull banget. Beda sama negara yang saya explore kemarin lebih selfish dan jutek.

Di sini kami nggak booking Hotel karena bakal lanjut bus ke Paris pukul 20.00 dan hotel juga mahal. Jadilah, kami titip koper di stasiun kereta Zurich. Emang Tuhan baik. Ada saja tumpangan buat mandi dan bersih–bersih badan. Kebetulan teman ada yang lagi di Zurich, dan kami numpang buat mandi di hotelnya.

Hehehhehehe, thanks for you wkwkkwkwkwk. Eh, mau kemana nih? Bareng saja yuk explore Zurich. Yukkk lah, akhirnya, jadilah kami bertiga expore Zurich. All of done, pukul 10.00 kami mulai explore Zurich. Gak banyak karena kota yang dibelah Sungai Limmat ini spot wisatanya sangat berdekatan dan bisa jalan kaki half day.

Mulai dari St Peter Pfurrhaus Church, Fraumunster Church & Helmhaus, Grossmunster, Kunsthaus, Rathaus Zurich dan jalanan Bahnhofstrasse. Mungkin karena sudah trip terakhir, duit mulai menipis, dan capek juga mau nyantai aja nikmatin kota. Akhirnya, niat lanjut ke Luzern diskip. Maybe next time, this is a reason to come back again.

Tapi, denger teman itu mau lanjut ke Liechtenstein di kota Vaduz, wahhh mulai tertarik. Kota kecil seluas kurang lebih 160 km2 yang terkurung daratan ganda di tepi timur Sungai Rhein, di antara negara Austria dan Swiss. Perjalanan hanya 2 jam dari Zurich.

Gila lu, 10 hari, 8 megara, itu liburan atau lari marathon hahahha. Jadilah, skip juga untuk ikut bareng. Akhirnya kami putusin menikmati suasana kota Zurich di piggiran Sungai Limmat. Airnya yang jernih banget, sampe bisa liat dasarnya. Sungguh kota yang sangat cantik dan ramah.

Oh iya, untuk kita yang budget pas-pasan, jangan coba–coba makan di restoran negara termahal di dunia ini. Sekali makan diketok harga 30 CHF atau sekitar Rp 432.000. Gilaaa hampir setengah juta, jatuh miskin hamba ya Tuhan. Tapi semua bisa disiasati kok, cari Supermarket Coop. Di sana banyak jual fast food.

Saya membeli 2 kali, beli setengah ekor ayam utuh yang dipanggang dan rasanya enak banget. Harganya cuma 8 CHF. So? masih takut liburan ke Swiss. Hehehhe. Pukul 20.00, Flixbus datang dan bermalam di bus, keesokan pagi tiba di Bandara CDG. Finally, Holiday end and back to reallity jadi babu. Hehehhe.

Jelajah 7 Negara Eropa dengan Budget Rp 20 Juta

Akhirnya, yuk kita hitung deskripsi all cost for this trip.
A. Paid before travelling
1. Pesawat Jakarta (KL by Lion air) : Rp 525.000
2. Pesawat KL–Paris PP by Saudia : Rp 7.950.000
3. Pesawat KL–Jakarta by Lion Air : Rp 445.000
4. SIM Card 3 Uk 5 GB, beli di Indonesia : Rp 325.000

5. Visa Schengen Prancis : Rp 1.350.000
6. Insurance Tokio Marine : Rp 227.000
7. Bank Reference, Pas poto & Rek koran : Rp 100.000
8. Ouibus Paris–Amsterdam : Rp 244.000
9. Train DB ICE 105 Amsterdam–Koln : Rp 732.000

10. Eurolines Bus Koln–Praha : Rp 553.000
11. Flixbus Praha–Salzburg : Rp 455.000
12. OBB Train Salzburg–Venezia : Rp 650.000
13. Flixbus Venezia–Zurich : Rp 537.000
14. Flixbus Zurich–Paris CDG : Rp 569.000

Tukar 350 EUR kali kurs IDR 16.250 = IDR 5.687.500. Ini biaya untuk hotel, tiket harian setiap kota, entrace ticket tempat wisata, makan, pengeluaran lainnya dan oleh-oleh.

B. Penginapan di setiap negara
1. Rumah Bang Roy Amsterdam : Rp 488.000
2. A Plus Hotel & Hostel Praha : Rp 269.000
3. YoHo International Youth Hostel Salzburg : Rp 454.000
4. Anda Venice Hostel Venice : Rp 341.000

Total : 14.662.000 + 5.687.500 = Rp 20.349.500

Jadi, masih bilang Impossible? Biar saya selotip tuh bibir. Hehehhehe. Sebenarnya budget segitu masih bisa ditekan lagi, kalau saja tiket pesawat bisa dapet lebih murah. Setelah issued tiket, ehhhh banyak promo berseliweran. Ada yang 7,5 juta multicity start Jakarta. Satu lagi, hal yang buat banyak bersyukur sama Tuhan, selama 10 hari di 7 negara, cuaca selalu cerah dan nggak hujan. Kebayang kan kalau misalnya ada sehari saja yang cuaca gak mendukung? Pasti trip hancur kacau balau.

Sumber : Ertama Oktavianus Purba, 23 Juni 2019.


Eksplorasi konten lain dari modatransportasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan