Lagi Dikaji Penerapan Busway Berpemandu untuk Jakarta

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan, dengan membaiknya infrastruktur jalan, bus jenis terbaru ini dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ‘jatah’ kendaraan pribadi di lalu lintas jalan.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri menambahkan, seiring perkembangan teknologi, banyak dikembangkan moda angkutan massal seperti O-Bhan, yang dapat dibangun dengan biaya lebih murah dibandingkan LRT, dengan sedikit lebih mahal dibandingkan BRT biasa.

“Untuk membangun, LRT biayanya Rp 500 miliar per km, apalagi kalau bangun MRT. ‎Untuk O-Bahn, biayanya 30 persen (lebih mahal) dibandingkan busway, tapi lebih murah dibandingkan LRT,” paparnya.

Dari sisi kapasitas, daya angkut penumpang yang dimiliki o-bahn lebih besar jika dibandingkan dengan TransJakarta atau Bus Rapit Transit (BRT). O-Bahn ini untuk kapasitas 20 persen di atas busway. O-Bahn sama dengan BRT tapi dengan daya angkut yang lebih besar.

Dia lebih unggul dibandingkan dengan bus biasa dan trem.

Menurut Zufikri, dengan kapasitas angkut yang lebih besar ini akan membuat biaya operasional O-Bahn lebih efisien meski membutuhkan investasi yang lebih besar ketimbang TransJakarta.‎

“Kemungkinan membangun beberapa ruas jalur. Tempatnya mungkin di luar Jakarta, karena itu kami perlu lihat lagi bagaimana masterplan kotanya,” terangnya. (*)

Tinggalkan Balasan