Bulir Kedua : Aram Temaram di Seoul

SEOUL bukan kota yang buruk. Udaranya bersih, transportasi mudah, dan akses apapun tersedia. Kakiku menembus debu musim semi di jalanan sepi. Masih pagi, tetapi berkat ancaman Kakek yang katanya akan menendang bokongku, aku sukses terbirit menuju sekolah.

Hari pertama. Berulang kali aku meluruskan kain seragam yang sebenarnya sudah selurus tiang listrik. Pula seperti orang gila yang berkutat dengan monolog demi melatih bahasa Korea-ku. Aku gugup, tolong.

“H-halo. Aku Hasegawa Naoki, asal Jepang. Semoga k-kita bisa berteman baik!”

Dalam otakku, terputar suatu khayal dimana aku dikelilingi sapaan riuh dari teman sekelas. Entah bertanya bagaimana rasanya hidup di Negeri Matahari Terbit, atau menu sarapanku pagi ini. Namun, tidak. Aku justru harus menahan seguk tangis sebab ramainya cemoohan mereka padaku.

“Hei, lihat! Gendut sekali badannya!”
“Babi, babi!”
“Di Jepang kau makan berapa mangkuk, heh?”
“Minggir semua! Gempa bumi akan datang!”

Aku bersahabat dengan geming selama tiga tahun karenanya. Aku takut. Bahkan aku harus menunduk dalam kala memijak ubin koridor, demi agar tidak bersirobok dengan pedasnya mulut mereka.

Lepas upacara kelulusan, aku menjelma tidak waras. Berulang kali menolak makan nasi dan lari keliling komplek rumah gila-gilaan. Obsesiku tercermin pada anggapan bahwa aku harus kurus agar mereka mau menerimaku.

Tiga bulan kemudian, beratku pun menurun. Kurva ramping dihiasi otot kencang membalut raga, persis seperti yang kudamba. Diet ketat menyiksaku membuahkan hasil. Aku jadi tidak pernah bosan bertatapan dengan bayanganku sendiri di depan cermin.

Kali ini, akan kutampar mulut mereka dengan fakta bahwa seorang Hasegawa Naoki juga berhak diterima dalam strata.

Sumber : Naoki (@insanecodes), 29 Januari 2019.

Tinggalkan Balasan