Cara Menuju Wisata Taman Bunga Refugia Mojokerto

TAMAN Bunga Refugia ini berlokasi di Dusun/Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Dia merupakan bagian dari area yang disebut Kampung Organik Brenjonk, yakni lahan persawahan seluas lima hektare milik 40 petani setempat. Satu petani menyiapkan satu petak untuk menanam Bunga Refugia.

Brenjonk berasal dari kata Sumber Rejo, sebuah mata air di dusun itu. Petani di daerah ini menanam palawija, dan refugia (kenikir) yang dalam bahasa Latin disebut cosmos caudatus. Refugia adalah tanaman bunga warna warni, guna menghadirkan dan meningkatkan populasi predator atau musuh alami terhadap hama perusak tanaman padi.

Berbagai tanaman bunga warna warni itu bisa ditanam pada pematang sawah, pinggiran saluran irigasi atau di tepi sawah. Kampung Organik Brenjonk mempunyai dua koleksi jenis bunga refugia, yaitu bunga kenikir dan bunga kertas. Yang paling dominan memang tanaman Bunga Kenikir, karena tumbuh subur.

Destinasi wisata desa berupa tanaman organik ini persis di tengah sawah, dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pemandangan alamnya memukau lantaran memiliki latar belakang dua pegunungan, yaitu Gunung Penanggungan dan sisi selatan Gunung Welirang.

Untuk mencapai lokasi Taman Bunga Refugia di Kampung Organik Brenjong tidak mudah. Ada di pelosok. Admin mo-trans menyarankan, sebaiknya menggunakan roda dua, bukan roda empat. Bisa sih bisa, tapi antara tempat parkir mobil dan lokasi, cukup jauh.

Tapi, bagi kamu yang suka berjalan kaki, dan memang hendak menikmati suasana alam pedesaan, silakan saja. Justru bagus. Turun dari parkiran mobil, silakan berjalan kaki menyusuri jalan makadam yang ada menuju lokasi Taman Bunga Refugia. Jaraknya hanya 500 meter dari jalan desa.

Sambil berjalan, sapalah warga yang tengah bercocok tanam dan rasakan suasana kekeluargaan khas pedesaan. Biaya masuk di Kampung Organik Brenjonk ini sangat murah, hanya Rp 5000 (valid per Oktober 2020). Biaya itu sekadar ongkos parkir. Kamu tinggal memasukan uangnya di sebuah kotak yang tersedia di situ. So, berilah lebih agar warga dapat merawat tempat yang indah itu.

Kalau menggunakan bantuan Google Maps, silakan cari lebih dulu, Kecamatan Trawas dan Komunitas Pertanian Organik Brenjonk (jarak 3,2 km). Dari Kantor Kecamatan Trawas ambil arah barat daya menuju Jl Jolotundo, melaju ke Jl Tamiajeng dan Jl Yon Cipto.

Setidaknya, jalan terus, temukan Balai Desa Tamiajeng, ambil kanan hingga menemukan SDN Selotapak, lalu Balai Desa Selotapak. Dari balai desa ini, lanjutkan perjalanan, hingga bertemu pertigaan. Ambil kanan setelah menemukan Toko Anjar.

Sejak enam bulan terakhir, banyak pengunjung mengalir ke destinasi ini. Mereka memburu lokasi objek spot foto Instagramable, terutama karena latar belakang hamparan bunga dan Gunung Penanggungan dan Welirang yang menambah kecantikan hasil foto.

Bukan hanya menghirup udara segar, jalan-jalan menyusuri pematang sawah dan berfoto, pengunjung dapat menghayati pemandangan indah, menikmati makan dan minuman organik, hingga menyaksikan berbagai contoh budidaya organik di lahan terbuka.

Slamet (50), Pengelola Kuwah Organik sekaligus Direktur Brenjonk mengatakan, Taman Bunga Refugia lahir dari 40 petani yang tergabung dalam Kuliner Sawah Organik atau di kenal Kuwah Organik, guna menciptakan ketahanan ekonomi di dusun itu.

Masing-masing petani berusaha memanfaatkan lahan untuk membuat petak kuliner organik seperti, beras organik, sayur organik, hingga prosesnya yang secara organik. Harapan awalnya, semua pengunjung yang datang dapat menikmati sajian yang sehat dan organik.

Dari situ, terbetik pengembangan wisata untuk membangun daya tarik lebih dengan membuat Taman Bunga Refugia. Konsepnya menonjolkan fungsi tanaman kenikir sebagai tanaman yang mampu mengendalikan hama padi, bisa jadi olahan urap-urap, hingga lokasi swafoto dan prewedding.

Selain tiga fungsi itu, pengunjung dapat belajar proses sistem ketahanan organik seperti membuat kompos, mikroba, pembibitan, perawatan, panen, hingga distribusi tanaman organik. “Jadi, petani tidak menjual tanah tapi menjual hasil olahannya,” kata Slamet.

Sebelumnya, tanaman padi menghasilkan 1 kuintal, sekarang bisa menjadi 1,5 ton. Inilah yang menjadikan tujuan pengembangan Bunga Refugia ditanam untuk ketahanan ekonomi. Petani tidak akan menjual tanahnya namun sudah menghasilkan dari tanaman yang ada.

Kampung Organik Brenjonk sendiri baru eksis sejak 12 tahun dan Taman Bunga Refugia dikembangkan setahun terakhir. Saat ini, kalau weekend, pengunjung mencapai 200 orang. Mereka datang dari luar Mojokerto seperti Halmahera, Timor-timor, mahasiswa asing dari Jerman, Turki yang kuliah di Indonesia, (*)

Tinggalkan Balasan