Rute Membelah Hutan ke Bromo lewat Senduro Lumajang

Ranupani berada di ketinggian 2200 mdpl, yang ditandai dengan 2 danau, yaitu Ranupani dan Ranuregolo.

Desa ini adalah pintu gerbang atau persinggahan terakhir untuk mendaki Gunung Semeru. Udaranya sangat dingin, apalagi di musim kemarau bisa mencapai 3 derajat Celsius di malam hari.

Dari Pura Mandara Giri Agung Semeru di Senduro, tak jauh dari SDN 01 Senduro, dimulailah menjelajah hutan alami, rimbun, gelap, licin, dan terus menanjak serta kanan kiri jurang yang dalam.

Ingat ya, cek rem dan kopling. Jadi, lebih baik berangkat pagi-pagi. Perjalanan melalui hutan Ireng-ireng ini memakan waktu 1,5 jam.

Di desa ini, bisa beristirahat, mandi lengkap dengan toiletnya. Ada warung tempat makan dan restoran, jadi yang belum makan sangat disarankan untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo.

Selepas Ranupani, kamu tidak akan lagi menjumpai warung atau restoran.

Dari Ranupani ini, nantinya bertemu jalur yang sudah masuk area Kabupaten Malang. Titik pertemuan di pertigaan Jemplang.

Simpang Jemplang ini berada sekitar dua kilometer dari Desa Ngadas, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Persimpangan jalan ini terbilang cukup vital sebagai penghubung antara Kabupaten Malang dengan kawasan taman nasional yang terdiri dari pos pendakian Gunung Semeru, Ranu Pane, dan Gunung Bromo.

Keberadaannya bisa dibilang sangat penting karena menjadi satu-satunya jalan masuk menuju TNBTS dari Desa Ngadas.

Di banding rute Tumpang, rute Bromo lewat Senduro, bagi sebagian orang lebih menarik, yaitu lebih teduh, lebih hijau, lebih memiliki variasi jalan serta lebih misterius.

Berbeda dengan jalur Tumpang yang berdebu meski jalannya lebih lebar.

Tinggalkan Balasan